• 🌋 Asap karhutla dan abu vulkanik sama-sama meningkatkan partikulat di udara, tetapi komposisinya berbeda: asap merupakan hasil pembakaran, sementara abu terdiri dari pecahan batuan dan kaca silika.
  • ⚠️ Perbedaan ini membuat risikonya juga berbeda. Asap membawa partikel halus, gas, dan bau, sedangkan abu vulkanik perlu diwaspadai karena partikelnya dapat bersifat tajam, abrasif, dan mengandung silika.
  • 🏠 Perlindungan terbaik dilakukan secara berlapis: kurangi paparan, rapatkan rumah, jangan menambah polusi dari dalam, lalu bersihkan udara yang tersisa.
  • 💨 Air purifier adalah lapisan terakhir, bukan yang pertama. Efektivitasnya akan lebih optimal ketika tiga lapisan perlindungan sebelumnya sudah dilakukan.

Belum selesai berhadapan dengan asap kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dan Sumatera, Indonesia mendapat lapisan masalah kedua. Gunung Anak Krakatau erupsi menerus sejak awal September, dan sebaran abunya terdeteksi sampai Banten, Jakarta, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu.

Berita yang paling banyak beredar adalah soal penerbangan: delapan bandara sempat ditutup, ratusan penerbangan dibatalkan, sekitar 150 ribu penumpang terdampak. Sekolah di sejumlah wilayah beralih ke pembelajaran jarak jauh.

Tapi ada satu hal yang sering luput dari berita erupsi.

Abu vulkanik bukan hanya masalah mesin pesawat. Ia juga masalah udara yang kita hirup — dan pada saat yang sama, jutaan orang di pulau sebelah sedang menghirup masalah yang sama sekali berbeda.

Polusi Udara dari Dua Polutan yang Berbeda

Asap kebakaran adalah hasil pembakaran. Ketika hutan, vegetasi, dan terutama lahan gambut terbakar, prosesnya melepaskan campuran kompleks berupa partikulat, gas, dan berbagai senyawa kimia.

Menurut WHO, sebagian besar massa partikel yang dilepaskan kebakaran berada pada ukuran PM2.5 atau lebih kecil. Partikel ini cukup halus untuk masuk jauh ke dalam paru-paru. Bersamanya ikut karbon monoksida, nitrogen dioksida, ozon, VOC, dan PAH.

Abu vulkanik memiliki karakter yang berbeda. Abu bukan hasil pembakaran, melainkan pecahan mikroskopis batuan, mineral, dan kaca vulkanik yang terlontar saat erupsi.

Dinas Kesehatan DKI Jakarta menegaskan abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Partikelnya sangat kecil dan dapat mengandung silika serta material kaca yang bersifat abrasif. Pakar kebencanaan menggambarkannya sebagai serpihan kaca berukuran mikroskopis.

Berbeda dengan debu biasa yang relatif lunak, partikel abu vulkanik memiliki permukaan yang tajam dan dapat mengiritasi mata, kulit, serta saluran pernapasan.

Seberapa Kecil Partikelnya?

Baik asap maupun abu dapat mengandung partikel yang diukur dengan satuan yang sama, yaitu PM10 dan PM2.5. Namun, angka tersebut tidak berarti bahan yang terkandung di dalamnya sama.

Abu vulkanik yang jatuh sebagai butiran kasar di atas mobil sebenarnya bukan bagian yang paling mengkhawatirkan bagi pernapasan. Partikel yang lebih besar cenderung lebih cepat mengendap dan lebih sulit masuk jauh ke saluran napas.

Yang perlu diperhatikan adalah fraksi halusnya. Partikel ini cukup ringan untuk melayang di udara dan cukup kecil untuk melewati penyaringan alami di hidung.

Karena itu, saat harus berada di luar atau membersihkan abu, ahli menyarankan penggunaan masker dengan kemampuan filtrasi tinggi, seperti N95 atau KN95.

Seberapa Buruk Kualitas Udara Saat Ini?

Di Kalimantan, kualitas udara sudah jauh melewati kategori berbahaya. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup pada awal September 2026, Kabupaten Katingan di Kalimantan Tengah mencatat ISPU 1.919. Angka ini lebih dari enam kali lipat ambang kategori berbahaya yang berada di angka 300.

Angka ISPU bersifat dinamis dan berubah tiap jam. Yang penting bukan angka satu hari, melainkan kebiasaan memeriksanya sebelum memutuskan aktivitas luar ruangan.

Dampaknya juga sudah terlihat di fasilitas kesehatan. Kementerian Kesehatan mencatat puluhan ribu kasus ISPA di Kalimantan selama periode karhutla dan memetakan puluhan kabupaten/kota yang mengalami kenaikan kasus signifikan.

Di sisi lain, sebaran abu Anak Krakatau membuat Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengeluarkan imbauan perlindungan diri bagi warga Jakarta.

Udara Buruk di Luar Bisa Masuk ke Dalam Rumah

Ini bagian yang sering terlewat.

Rumah bukan kotak tertutup. Asap dan partikel abu dapat masuk melalui jendela, celah pintu, lubang angin, sambungan plafon, dan berbagai jalur ventilasi lainnya.

Menutup pintu dan jendela membantu mengurangi paparan, tetapi jarang bisa menutup semua jalur masuk udara.

Salah kaprah yang umum
AC split tidak menyaring udara dari luar seperti air purifier. AC terutama berfungsi mendinginkan dan mensirkulasikan udara, dengan filter yang dirancang untuk melindungi sistem AC dari debu, bukan sebagai pengganti alat pembersih udara.
Menyalakan AC memang membuat orang cenderung menutup jendela, dan itu membantu mengurangi masuknya udara luar. Namun, AC sendiri bukan alat pembersih udara.

Empat Langkah untuk Melindungi Udara di Rumah

Cara paling masuk akal menghadapi kondisi seperti ini bukan mencari satu solusi untuk semuanya. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan secara berurutan.

Urutannya penting. Langkah pertama bisa dilakukan tanpa alat. Setelah itu, barulah tambahkan perlindungan sesuai kebutuhan.

1. Kurangi paparan

  • Cek ISPU dan batasi aktivitas luar saat udara buruk.
  • Jika harus keluar, gunakan N95/KN95 dan lindungi mata.
  • Di mobil, gunakan mode recirculate.

2. Rapatkan rumah

  • Tutup pintu dan jendela selama sebaran asap atau abu.
  • Tutup celah pintu, jendela, ventilasi, dan lubang angin yang tidak diperlukan.
  • Lepas alas kaki sebelum masuk rumah.

3. Jangan tambah polusi dari dalam

  • Jangan menyapu abu dalam keadaan kering. Gunakan lap basah atau pel.
  • Hindari membakar rokok, dupa, lilin, atau obat nyamuk di dalam rumah.
  • Saat membersihkan abu, gunakan N95/KN95 dan kacamata.

4. Bersihkan udara yang tersisa

  • Gunakan air purifier Blueair di ruangan yang paling sering digunakan.
  • HEPASilent™ membantu menangkap partikel halus, sementara karbon aktif membantu mengurangi gas dan bau.
  • Pilih CADR yang sesuai dengan luas ruangan dan periksa filter lebih sering saat polusi tinggi.

Dua Bencana, Satu Pelajaran

Kita tidak bisa mengendalikan kapan lahan gambut terbakar. Kita juga tidak bisa mengendalikan kapan gunung meletus.

Yang bisa kita kendalikan adalah seberapa banyak dari peristiwa itu yang akhirnya masuk ke dalam rumah, dan seberapa siap kita ketika hal serupa terjadi lagi — karena di Indonesia, musim kemarau dan aktivitas vulkanik keduanya berulang.

Udara yang terlihat berkabut membuat kita waspada. Yang lebih perlu diperhatikan justru hari-hari setelahnya: ketika langit sudah kembali cerah, abu halus masih mengendap di permukaan, dan semua orang kembali menyapu, membuka jendela, dan berolahraga di luar seperti biasa.

Pertanyaan yang layak ditanyakan bukan "apakah udara di luar sudah bersih", tapi "seberapa bersih udara di dalam rumah kita?"

____________________

 

Sumber:

Questions about volcanic ash and other tephra from Kīlauea | U.S. Geological Survey

BMKG Terus Pantau Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau - Berita Utama - BMKG

Kemenkes Siagakan 413 Rumah Sakit dan 830 Puskesmas Hadapi Dampak Erupsi Anak Krakatau

Antisipasi Dampak Karhutla, Kemenkes Kerahkan Nakes dan Logistik ke 7 Provinsi

Wildfires

Impacts & Mitigation - Health

Catatan editorial: Artikel ini bersifat edukatif dan tidak dimaksudkan sebagai diagnosis atau pengganti nasihat medis. Dampak paparan asap karhutla dan abu vulkanik dapat berbeda pada setiap individu, tergantung konsentrasi dan durasi paparan, kondisi lingkungan, serta faktor kesehatan masing-masing. Jika mengalami keluhan seperti sesak napas, iritasi mata yang berat, atau gejala lain setelah terpapar, disarankan untuk mencari pertolongan medis.


1