• 🌏 Jakarta kini menjadi kawasan urban dengan penduduk terbanyak di dunia. PBB mencatat sekitar 42 juta jiwa, lebih banyak daripada Dhaka dan Tokyo. Ukuran ini berdasarkan jumlah penduduk, bukan luas wilayah.
  • 🚗 Kemacetan Jakarta memburuk sepanjang 2025. Waktu tempuh naik, kecepatan turun, dan sekitar 125 jam hilang di jam sibuk. Posisi Jakarta dalam peringkat kota termacet dunia juga berubah dari peringkat ke-90 menjadi ke-24.
  • 🛣️ Jumlah kendaraan tumbuh jauh lebih cepat daripada jalan. Kendaraan di Jakarta bertambah sekitar 2,7% per tahun, sementara panjang jalan hanya bertambah sekitar 0,01%.
  • Mobil listrik tumbuh cepat, tetapi jumlahnya masih kecil. Pangsa penjualan mobil listrik sudah mencapai sekitar 16%, tetapi populasi kendaraan listrik nasional baru sekitar 468 ribu unit dari lebih 152 juta kendaraan bermotor terdaftar. Jumlah kendaraan konvensional masih terus bertambah secara absolut.
  • 🫁 Yang bertambah di dalam mobil bukan hanya waktu tapi juga polusi. Penelitian menemukan konsentrasi NO₂ di dalam mobil lebih tinggi daripada yang dihirup pesepeda di rute yang sama. NO₂ juga menjadi salah satu polutan yang diteliti dalam studi mengenai pertumbuhan fungsi paru anak di London.

Jakarta Jadi Kota Terpadat di Dunia, Kenapa?

Pada November 2025, Divisi Kependudukan PBB merilis World Urbanization Prospects 2025. Untuk pertama kalinya, Tokyo tidak lagi berada di posisi teratas. Jakarta tercatat sebagai kawasan urban dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, sekitar 42 juta jiwa.

Angka tersebut menempatkan Jakarta di atas Dhaka dan cukup jauh di atas Tokyo yang memiliki sekitar 33 juta penduduk.

Ada satu hal yang perlu diluruskan. Lonjakan posisi Jakarta ini sebagian besar terjadi karena perubahan metode penghitungan. PBB kini melihat kawasan urban berdasarkan keterhubungan geografis, bukan sekadar administratif (KTP).

Itulah sebabnya Jakarta bisa berpindah dari peringkat ke-33 menjadi peringkat pertama tanpa tiba-tiba kedatangan puluhan juta penduduk baru.

Sekitar 42 juta orang itu pada dasarnya memang sudah berada di kawasan yang kita kenal sebagai Jakarta dan sekitarnya. Perbedaannya, sekarang PBB menghitung kawasan tersebut sebagai satu kesatuan urban.

Bagi orang yang setiap pagi berangkat dari Bekasi menuju Jakarta, konsep ini mungkin tidak terlalu mengejutkan.

125 Jam Hilang Karena Macet di Jalan

Setiap Januari, TomTom merilis Traffic Index berdasarkan data GPS anonim dari ratusan juta perangkat di berbagai kota.

Edisi 2025 yang dirilis pada Januari 2026 menunjukkan kondisi Jakarta yang semakin padat.

Seratus dua puluh lima jam setara dengan lima hari.

Tentu bukan berarti kita menghabiskan lima hari penuh tanpa bergerak. Angka tersebut menunjukkan waktu tambahan yang hilang karena kemacetan, di luar waktu yang seharusnya dibutuhkan untuk perjalanan.

Dan angka itu meningkat 2 jam 33 menit dibandingkan tahun sebelumnya.

Regulasi Mobil Listrik Belum Mengubahnya

Indonesia sedang mendorong peralihan menuju kendaraan listrik. Setelah penggunaan bensin bertimbal ditinggalkan, kendaraan listrik menjadi salah satu bagian penting dari arah kebijakan transportasi nasional.

Pertumbuhannya memang terlihat jelas. Pangsa penjualan mobil listrik mencapai sekitar 16% dari penjualan nasional sepanjang Januari hingga Juli 2026.

Namun, ada perbedaan penting antara pangsa penjualan dan jumlah kendaraan yang sudah berada di jalan.

Di Jakarta, kendaraan bertambah sekitar 2,7% setiap tahun. Sementara itu, panjang jalan hanya bertambah sekitar 0,01%.

Layanan transportasi umum Jakarta sebenarnya sudah menjangkau sekitar 93% wilayah. Namun, survei ITDP menunjukkan mayoritas warga masih memilih kendaraan pribadi. Alasan yang paling banyak disebut adalah kenyamanan, kemudian waktu tempuh dan keandalan layanan.

Ada persoalan lain yang perlu dilihat. Studi source apportionment PM2.5 Jakarta yang dirilis tim ITB pada Agustus 2026 menempatkan kendaraan diesel sebagai salah satu sumber terbesar, dengan kontribusi 32,4%. Kendaraan bensin menyusul dengan 26,9%.

Jadi, setiap mobil listrik yang terjual tidak otomatis berarti satu mobil konvensional hilang dari jalan. Ketika jumlah total kendaraan terus bertambah, ruas jalan yang sama tetap harus menampung lebih banyak kendaraan.

Saat Macet, Mesin Kendaraan Berdampak Lebih Buruk

Ada hubungan lain antara kemacetan dan kualitas udara yang sering luput diperhatikan.

Kendaraan yang terus berhenti dan kembali bergerak bekerja dalam kondisi yang kurang efisien dibandingkan ketika melaju dengan lancar. Proses berhenti, diam, lalu kembali berakselerasi dapat menghasilkan emisi yang lebih tinggi per kilometer dibandingkan perjalanan yang lebih lancar.

Karena itu, kemacetan bukan hanya terjadi bersamaan dengan polusi. Kondisi lalu lintas yang tersendat juga ikut memperburuk emisi kendaraan.

Masalahnya kemudian tidak berhenti di luar kendaraan.

Semakin Lama di Jalan, Semakin Lama Terpapar Polusi

Sampai di sini, kemacetan mungkin masih terdengar seperti persoalan waktu. Namun, ada alasan lain mengapa tambahan waktu di jalan perlu diperhatikan.

Kita menghabiskan sebagian waktu tersebut di dalam kabin mobil, sangat dekat dengan sumber emisi kendaraan lain.

Ada anggapan bahwa berada di dalam mobil dengan kaca tertutup dan AC menyala otomatis membuat kita aman dari polusi luar. Untuk partikel halus, anggapan ini sebagian benar. Untuk gas, kondisinya berbeda.

Mobil berada sangat dekat dengan kendaraan di depannya. Ketika lalu lintas padat, kita bisa berada di belakang kendaraan lain selama puluhan menit dalam ruang kabin yang relatif tertutup.

Di Jakarta, perjalanan 10 km pada sore hari bisa membutuhkan sekitar 38 menit.

Artinya, selama perjalanan tersebut kita tidak hanya kehilangan waktu. Kita juga berada lebih lama di lingkungan yang memiliki sumber polusi di sekitar kita.

Filter Bawaan Mobil Tidak Dirancang untuk Menghilangkan Gas

Filter kabin standar pada mobil umumnya dirancang untuk menyaring debu dan partikel yang masuk melalui sistem ventilasi. Filter ini membantu menjaga udara yang masuk ke kabin tetap lebih bersih dari kotoran dan partikel.

Namun, gas seperti NO₂ membutuhkan pendekatan yang berbeda.

Filter berbasis serat biasa tidak dirancang untuk menangkap gas secara efektif. Untuk mengurangi polutan berbentuk gas, diperlukan material adsorben seperti karbon aktif.

Ini penting karena NO₂ menjadi salah satu polutan yang semakin banyak diperhatikan dalam penelitian mengenai kesehatan dan kualitas udara.

Apa Hubungannya dengan Kesehatan Anak?

Pada Agustus 2026, The Lancet Public Health menerbitkan studi CHILL yang mengamati 3.414 anak berusia 6 hingga 9 tahun di London dan Luton.

Para peneliti mengikuti anak-anak tersebut selama lima tahun dan mengukur fungsi paru mereka menggunakan spirometer di sekolah.

Hasilnya menunjukkan bahwa ketika paparan NO₂ anak-anak London turun lebih cepat setelah penerapan zona rendah emisi, pertumbuhan fungsi paru mereka juga menunjukkan perbaikan.

Proporsi anak dengan fungsi paru yang terganggu turun dari 14% menjadi 9% di London. Di kota pembanding, angkanya turun dari 9% menjadi 7%.

Peneliti sendiri berhati-hati dalam menjelaskan hasil tersebut. Mereka menggunakan istilah "berkaitan dengan", bukan menyatakan bahwa penurunan NO₂ secara langsung menyebabkan perubahan fungsi paru.

Beberapa ahli independen juga mempertanyakan keterbatasan penelitian karena hanya membandingkan dua wilayah.

Namun, satu hal tetap menarik untuk diperhatikan. Ketika paparan polusi turun pada periode pertumbuhan paru yang penting, perubahan pada fungsi paru juga dapat terlihat dan diukur.

Jaga Udara yang Anda Hirup di Dalam Mobil

Ada satu konsep sederhana yang membantu memahami persoalan ini: dosis paparan.

Secara sederhana, dosis dipengaruhi oleh seberapa tinggi konsentrasi polutan dan berapa lama seseorang terpapar.

Jakarta baru saja menambah 2 jam 33 menit ke sisi "waktu" tersebut dalam satu tahun.

Kita memang tidak bisa menghindari kemacetan setiap hari. Namun, kita bisa membantu menjaga kualitas udara yang kita hirup selama perjalanan.

Blueair Cabin Air Purifier dirancang khusus untuk mobil. Membantu membersihkan udara di dalam kabin mobil, sehingga Anda dan keluarga dapat menikmati udara yang lebih bersih selama perjalanan.


Sumber:

Impact of the Ultra Low Emission Zone on lung function growth in children in London, UK: a prospective parallel cohort study - The Lancet Public Health

Rano nilai pertumbuhan kendaraan tak sebanding dengan ruas jalan - ANTARA News

Jakarta traffic report | TomTom Traffic Index

World Urbanization Prospects 2025 | Population Division

Catatan editorial: Artikel ini bersifat edukatif dan tidak dimaksudkan sebagai diagnosis atau pengganti nasihat medis. Tingkat paparan polusi setiap individu dapat berbeda tergantung rute, kendaraan, kondisi mobil, ventilasi, dan faktor lainnya. Studi yang dirujuk menunjukkan hubungan antara paparan polusi udara dan kesehatan, namun hasilnya tidak selalu dapat digeneralisasikan pada setiap individu.


1