- 🧠 Skrining Kemenkes 2025: 30% dari 7 juta lansia yang diperiksa terindikasi gangguan kognitif. ±2 juta orang Indonesia kini hidup dengan demensia, diproyeksikan 7,5 juta pada 2050.
- 🔎 Lancet Commission 2024: hampir separuh kasus demensia berkaitan dengan faktor risiko yang bisa diubah.
- 🧩 Kerusakan otak biasanya bermula di hipokampus (pusat memori), lalu menjalar ke lobus temporal, parietal, dan frontal
- 🌫️ Polusi udara masuk daftar: risiko demensia naik ±8% per 5 µg/m³ PM2.5. Mengurangi paparan di dalam ruangan adalah langkah nyata yang bisa dimulai hari ini.
Tahun 2025, Kementerian Kesehatan melakukan skrining kesehatan terhadap sekitar 7 juta lansia di seluruh Indonesia. Hasilnya mengejutkan.
30% lansia Indonesia yang diskrining menunjukkan indikasi gangguan kognitif.
____________________
Saat ini diperkirakan lebih dari 2 juta orang Indonesia hidup dengan demensia, dan World Alzheimer Report memproyeksikan angka ini melonjak hingga 7,5 juta pada 2050 seiring menuanya populasi kita.
Di balik angka-angka itu ada beban yang sangat nyata. Menurut Kemenkes, ketika seorang lansia dengan penyakit penyerta seperti diabetes kemudian mengalami demensia, biaya perawatannya bisa melonjak empat hingga lima kali lipat.
Mengenal Perubahan pada Otak akibat Demensia
Demensia bukan penyakit tunggal, melainkan kumpulan gejala penurunan fungsi kognitif — daya ingat, bahasa, orientasi, hingga kepribadian. Penyebab tersering adalah penyakit Alzheimer, yang merusak sel-sel saraf secara bertahap.
Kerusakannya tidak acak. Ia biasanya dimulai di hipokampus, pusat memori otak — itulah mengapa gejala awal yang paling khas adalah lupa kejadian baru. Dari sana, kerusakan menjalar ke lobus temporal yang mengelola bahasa (sulit menemukan kata), lobus parietal yang mengatur orientasi ruang (tersesat di rute yang familiar), dan akhirnya lobus frontal, pusat perencanaan dan kepribadian (perubahan sikap dan penilaian). Peta inilah yang membuat gejala demensia terasa seperti "kehilangan diri" secara perlahan.

Pada demensia Alzheimer, kerusakan umumnya bermula di hipokampus lalu menjalar ke lobus temporal, parietal, dan frontal — menjelaskan urutan gejala yang khas.
Ada 14 Faktor Risiko Demensia yang Bisa Kita Kelola
Kabar baiknya datang dari Lancet Commission 2024, rujukan ilmiah paling berpengaruh soal pencegahan demensia. Para peneliti mengidentifikasi 14 faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Dan memperkirakan bahwa sekitar 45% kasus demensia di dunia secara teori dapat dicegah atau ditunda jika faktor-faktor tersebut dikelola sepanjang hidup.
Faktor-faktor ini muncul pada berbagai tahap kehidupan, mulai dari masa muda hingga usia lanjut.

Polusi udara menarik perhatian karena berbeda dari sebagian besar faktor lain dalam daftar ini. Kita tidak selalu bisa mengendalikan kualitas udara di luar rumah, tetapi kita masih bisa mengurangi paparan di lingkungan tempat kita tinggal dan beraktivitas.
Udara dan Otak, Apa Hubungannya?
Pada 2025, tim peneliti Universitas Cambridge menerbitkan meta-analisis di The Lancet Planetary Health yang menggabungkan data jutaan partisipan. Kesimpulannya: setiap kenaikan paparan jangka panjang PM2.5 sebesar 5 µg/m³ berkaitan dengan peningkatan risiko demensia sekitar 8 persen. PM2.5 adalah partikel halus dari knalpot, industri, dan pembakaran — cukup kecil untuk masuk jauh ke paru-paru, memicu peradangan dan stres oksidatif yang pada akhirnya ikut membebani otak.
Sebagai perbandingan, ambang aman tahunan WHO adalah 5 µg/m³. Udara Jakarta dan banyak kota besar Indonesia rutin berada berkali-kali lipat di atas angka itu. Dan satu fakta yang sering terlewat: sebagian besar hidup kita — tidur, bekerja, berkumpul — justru dihabiskan di dalam ruangan, tempat polusi luar tetap merembes masuk dan bercampur dengan sumber polusi indoor.

Apa Yang Bisa Dilakukan Mulai Hari Ini?
Tidak semua faktor risiko dapat diubah dengan cepat. Namun, untuk paparan polusi udara, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan sehari-hari:
Pantau kadar PM2.5 di dalam dan sekitar rumah.
Pastikan ventilasi bekerja dengan baik dan gunakan pada kondisi yang tepat.
Kurangi sumber polusi di dalam rumah, termasuk asap rokok dan asap dari aktivitas memasak.
Gunakan air purifier dengan filtrasi yang sesuai dengan ukuran ruangan.
Berikan perhatian lebih pada ruangan tempat Anda menghabiskan banyak waktu, seperti kamar tidur dan ruang keluarga.

Teknologi air purifier dapat membantu mengurangi partikel di udara dalam ruangan. Blueair menggunakan teknologi HEPASilent™, yang menggabungkan filtrasi mekanis dan teknologi elektrostatik untuk menangkap partikel di udara, termasuk partikel berukuran sangat kecil.
Air purifier tentu bukan pengobatan untuk demensia. Tidak ada satu alat atau satu perubahan gaya hidup yang dapat menghilangkan seluruh risiko.
Namun, jika polusi udara termasuk salah satu dari 14 faktor risiko yang dapat dimodifikasi, mengurangi paparannya di rumah merupakan salah satu langkah yang bisa mulai dilakukan sekarang.
Menjaga kesehatan otak berlangsung sepanjang hidup. Kualitas udara yang kita hirup setiap hari adalah salah satu bagian yang bisa kita perhatikan.
Sumber:
Dementia prevention, intervention, and care 2024
World-Alzheimer-Report-2025.pdf
Dementia statistics | Alzheimer's Disease International (ADI)
Catatan editorial: Artikel ini membahas 14 faktor risiko demensia yang dapat dimodifikasi berdasarkan Lancet Commission 2024, termasuk polusi udara dan kaitannya dengan paparan PM2.5. Informasi disajikan untuk tujuan edukasi dan bukan sebagai pengganti diagnosis atau saran medis dari tenaga kesehatan.




