- 📉 Emisi partikel dari knalpot kendaraan memang turun. Terlebih karena penggunaan mobil listrik. Ini kabar baik yang nyata.
- 🛞 Tapi partikel dari ban & rem justru makin banyak, dan kini sudah menjadi mayoritas partikel dari lalu lintas jalan raya.
- 🔬 Sebuah studi 2026 menyoroti 6PPD-Q, senyawa turunan bahan ban, yang dapat menembus sawar darah–otak. Ini sinyal awal, bukan vonis.
- 🚗 Paparan tertinggi justru terjadi di tempat yang terasa paling aman: di dalam kabin mobil. Dan karena musuhnya adalah partikel, pertahanannya adalah filtrasi udara di dalam mobil.
Selama puluhan tahun kita mengarahkan telunjuk ke asap knalpot. Sementara itu, empat lembar karet di bawah setiap mobil — bensin, diesel, hybrid, maupun listrik — terus melepas partikel halus yang tak terlihat, tak diregulasi, dan jumlahnya justru meningkat.
Masalah Polusi Knalpot Mulai Teratasi
Ada satu cerita lingkungan yang benar-benar berjalan ke arah yang tepat. Standar emisi kendaraan makin ketat dari dekade ke dekade. Filter partikel pada mobil modern kini sangat efektif — begitu efektifnya sampai emisi partikel dari knalpot mobil baru berada di level yang sangat rendah. Ditambah pertumbuhan kendaraan listrik dan hybrid, tren emisi knalpot memang menurun.
Jadi kalau Anda merasa perbincangan soal “mobil bersih” selama ini melelahkan, ada alasan untuk optimistis. Bagian dari masalah itu sedang diselesaikan.
Masalahnya, kita merayakan kemenangan di satu sisi sambil tidak melihat apa yang sedang terjadi di sisi lain.
Mesin diregulasi. Tapi ban tidak.
Saat Sumber Polusi Bergeser dari Kanlpot ke Ban
Lembaga uji emisi independen Emissions Analytics melakukan pengukuran keausan ban di jalan nyata — menimbang keempat roda dengan timbangan presisi tinggi setelah ribuan kilometer, sekaligus menangkap partikel langsung di belakang setiap ban. Kesimpulan mereka mengejutkan: dalam kondisi berkendara normal, massa partikel dari keausan ban bisa sekitar 1.850 kali lebih besar dibanding massa partikel yang keluar dari knalpot mobil modern.
Rasio sebesar itu terjadi bukan hanya karena ban makin kotor, tetapi juga karena knalpot sudah jauh lebih bersih. Dua garis bergerak berlawanan pada saat yang sama.

Kini Ban & Rem Menjadi Sumber Utama Partikel Lalu Lintas
Studi Imperial College London memperkirakan bahwa pada 2021, 52% dari seluruh emisi partikel kendaraan jalan raya sudah berasal dari ban dan rem, bukan dari knalpot. Secara global, sekitar 6,6 juta ton partikel keausan ban dilepas setiap tahun. Sekitar 82% mengendap ke tanah dan air; sisanya, 18%, melayang di udara.
Delapan belas persen terdengar kecil — sampai Anda ingat dari angka sebesar apa persentase itu dihitung. Di Inggris, kelompok pakar kualitas udara pemerintah bahkan merekomendasikan agar emisi non-knalpot diakui sebagai sumber partikel di udara bahkan untuk kendaraan yang emisi knalpotnya nol.

Mobil Listrik Hanya Menyelesaikan Separuh Masalah
Di sinilah ceritanya jadi tidak nyaman — untuk semua pihak.
Label “zero emission” adalah klaim tentang knalpot. Bannya tidak ikut membaca memo itu. Dan karena keausan ban meningkat seiring bobot kendaraan, baterai yang berat justru menambah beban di titik ini. Emissions Analytics memperkirakan tambahan bobot baterai setengah ton saja dapat membuat emisi partikel ban mencapai hampir 400 kali emisi knalpot dunia nyata, dengan faktor lain dianggap setara.
Tapi mereka juga menegaskan hal yang sama pentingnya, dan sering dilewatkan: pengemudi kendaraan listrik yang halus — dibantu regenerative braking yang mengurangi pengereman mekanis — bisa menghasilkan keausan ban lebih rendah daripada mobil bensin yang dikemudikan agresif.
Jadi ini bukan cerita tentang mobil siapa yang salah. Ini cerita tentang satu kenyataan yang jauh lebih sederhana, dan jauh lebih sulit dihindari:
Tidak ada mobil yang tidak punya ban. Termasuk mobil yang setiap hari melintas di depan rumah Anda."
____________________
Mengapa Ilmuwan Mulai Memperhatikan Partikel Ban
Ban bukan sekadar karet. Ia mengandung bahan pengawet bernama 6PPD, yang melindungi ban dari retak. Ketika terpapar ozon di udara, 6PPD berubah menjadi senyawa turunan bernama 6PPD-Q.
Senyawa ini sudah lebih dulu dikenal di dunia lingkungan sebagai penyebab kematian massal ikan salmon — seorang direktur sumber daya alam bahkan menyebutnya “DDT generasi kita”. Yang baru adalah perhatian pada sisi manusia. Sebuah studi yang terbit 2026 di jurnal Open Medicine melaporkan bahwa 6PPD-Q dapat menembus sawar darah–otak, memicu stres oksidatif dan disfungsi mitokondria, serta mengganggu fungsi neurologis pada model uji.
Untuk kita yang mengurus udara di dalam ruangan, satu detail teknis paling menentukan: 6PPD-Q bukan gas. Ia menempel dan menumpang pada partikel halus. Artinya, jalur masuknya ke tubuh adalah jalur yang sama dengan PM2.5 — dan pertahanan terhadapnya adalah pertahanan yang sama pula: filtrasi partikel.
Paparan Tertinggi Justru Terjadi di Dalam Mobil
Kaca tertutup. AC menyala. Macet di luar sana, bukan di dalam sini. Kabin mobil terasa seperti tempat perlindungan.
Padahal Anda sedang duduk di dalam kotak kecil, tepat di belakang ban dan knalpot kendaraan di depan, dalam kondisi berhenti-jalan yang justru memaksimalkan konsentrasi polutan. Sebuah studi paparan di Los Angeles menemukan bahwa waktu berkendara hanya mengisi sekitar 6% dari hari seseorang — namun menyumbang 33–45% dari total paparan partikel ultrahalus harian mereka.
Waktu terpendek. Dosis terbesar. Itulah kenapa kabin mobil layak diperlakukan sebagai ruangan tersendiri, bukan sekadar “perjalanan”.
Paparan Partikel Masih Bisa Dikurangi
Anda tidak bisa mengatur bobot mobil orang lain, gaya menyetir mereka, atau komposisi ban yang mereka beli. Tapi partikel halus punya satu kelemahan yang konsisten: ia bisa disaring.
Dan buktinya bukan retorika. Dalam studi terhadap pengemudi taksi, penggunaan filter kabin efisiensi tinggi (dengan jendela tertutup) menurunkan PM2.5 di dalam kabin hingga sekitar 70% dan partikel ultrahalus hingga sekitar 92%. Sebuah uji silang terhadap 48 orang komuter juga mencatat penurunan partikel ultrahalus, PM2.5, dan black carbon di kisaran 28–32% saat filtrasi kabin diaktifkan.

Lindungi Dua Ruang yang Paling Sering Anda Tempati
Kabin mobil dan rumah adalah dua tempat Anda menghabiskan sebagian besar hidup. Keduanya bisa disaring.
Sebagai distributor resmi Blueair di Indonesia, PT Higienis Indonesia menghadirkan dua lapis pertahanan yang bekerja pada masalah yang sama — partikel halus yang tidak terlihat:
Air Purifier Blueair Cabin. Pembersih udara khusus kendaraan, untuk ruang paling pekat dalam hari Anda: kabin mobil di tengah macet.

Air Purifier Blueair Blue Signature untuk rumah. Karena debu ban tidak berhenti di jalan — ia mengendap di lingkungan tempat Anda tinggal, lalu terbawa masuk.

Sensor dan aplikasi. Pada model yang dilengkapi sensor, Anda dapat melihat sendiri apa yang sedang Anda hirup — PM1, PM2.5, PM10, VOC, suhu, dan kelembapan (ketersediaan metrik bervariasi menurut model).
Pembersih udara bukan alat medis dan tidak dimaksudkan untuk mendiagnosis, mengobati, atau mencegah penyakit apa pun. Klaim penurunan partikel di atas mengacu pada studi ilmiah yang dikutip, bukan pada pengujian produk Blueair. PT Higienis Indonesia adalah distributor, bukan produsen.
Selama bertahun-tahun kita diajari untuk menahan napas saat melewati bus yang mengepul. Kita tidak pernah diajari untuk memikirkan empat lembar karet yang diam-diam terkikis di bawah setiap mobil yang lewat — termasuk mobil yang kita banggakan karena tidak mengeluarkan asap sama sekali.
Itulah pola yang terus berulang pada polusi udara: yang paling berbahaya adalah yang paling tidak terlihat. Dan yang tidak terlihat, tidak akan pernah kita lawan — sampai seseorang menunjukkannya.
Sumber:
Research: Tires and brakes emit more particulates than tailpipes
6PPD-quinone exposure and Alzheimer’s disease: insights f...




