- Banyak produk yang dianggap “hijau” (sedotan bambu, botol stainless, tas kanvas) sebenarnya tidak ramah lingkungan jika tetap dikonsumsi berlebihan.
- Sustainabilitas bukan tentang mengganti barang dengan versi “natural”, tetapi tentang mengubah kebiasaan: konsumsi lebih sedikit, pilih lebih lama.
- Higienis Indonesia justru mendorong konsumen membeli lebih sedikit namun lebih berkualitas. Produk yang tahan lama dan dipilih dengan sadar, bukan karena tren.
- Blueair dan Brabantia menghadirkan sustainability nyata melalui keawetan, efisiensi energi, desain timeless, dan komitmen B Corporation.
Kata sustainable dan eco–friendly sudah begitu sering dipakai sampai maknanya kabur. Banyak orang merasa “lebih hijau” hanya dengan mengganti plastik dengan bambu, kertas, stainless steel, atau tote bag kanvas. Namun sering kali, yang berubah hanya material, bukan perilaku konsumsi.
Contohnya: sedotan kertas atau bambu dipuji sebagai solusi plastik. Tapi jika tetap diproduksi massal untuk dipakai beberapa menit saja, kita tetap saja menebang pohon. Tumbler stainless steel pun demikian. Di atas kertas terlihat ramah lingkungan, tetapi jika kita memiliki lima, delapan, bahkan satu lemari penuh, maka jejak produksinya (energi, air, bahan kimia) justru jauh lebih besar daripada plastik sekali pakai. Begitu pula tote bag kanvas yang sering dikoleksi hanya karena desainnya berubah setiap bulan. Padahal untuk “menebus” dampak produksi satu tote kanvas, tas itu harus dipakai ratusan kali.
Masalah utamanya bukan plastik atau bambu.
Masalahnya adalah overconsumption. Kita membeli terlalu banyak, terlalu sering, walaupun barangnya dilabeli “eco-friendly”.

Data Global Membuktikan: Dunia Masih Sangat Tidak Berkelanjutan
Laporan Circularity Gap Report 2025 mengungkap fakta yang cukup mengejutkan:
hanya 6,9% dari seluruh material yang digunakan dunia berasal dari bahan daur ulang. Artinya, lebih dari 90% material yang kita konsumsi adalah material baru yang pada akhirnya berakhir sebagai limbah.
Lebih jauh lagi, meski volume daur ulang meningkat sedikit, konsumsi material baru meningkat jauh lebih cepat. Sistem daur ulang global tidak mampu mengejar laju konsumsi manusia.
Kita tidak bisa berharap pada daur ulang untuk menyelesaikan masalah jika pola konsumsi tidak berubah.
CGR 2025 juga menegaskan bahwa solusi paling efektif bukan sekadar mengganti bahan, tetapi memperpanjang umur produk melalui desain yang tahan lama, modular, mudah diperbaiki, dan dipakai selama bertahun-tahun.
Dengan kata lain yang dibutuhkan bukan barang “hijau”, tetapi barang yang awet dan dipakai lama.
Sustainabilitas Bukan Tentang Bahan, Tetapi Kebiasaan
Istilah “natural”, “organic”, atau “biodegradable” sering otomatis diasosiasikan dengan kebaikan lingkungan. Padahal proses produksi bahan alami tetap membutuhkan energi, air, dan transportasi. Jika konsumsinya berlebihan, dampaknya tetap merusak.
Itulah sebabnya sustainabilitas sejati bermula dari konsumsi yang sadar: membeli lebih sedikit, memilih lebih baik, dan memakai lebih lama.
Lalu, Tidakkah Aneh Jika Perusahaan Menyarankan untuk Membeli Lebih Sedikit?
Mungkin terdengar ironis bahwa Higienis Indonesia (yang menjual produk) malah menyarankan untuk tidak membeli banyak barang.
Tetapi justru di sinilah prinsip keberlanjutan itu diuji.
Higienis Indonesia percaya bahwa bumi tidak membutuhkan lebih banyak barang trendy, FOMO, atau impulsif.
Bumi membutuhkan barang yang dipilih karena kualitasnya, fungsinya, dan umurnya yang panjang.

Beli lebih sedikit, beli lebih baik.
Itulah bentuk sustainability yang paling realistis.
Dan karena itu, Higienis Indonesia memilih untuk membawa merek yang benar-benar selaras dengan filosofi tersebut: Blueair dan Brabantia, dua brand bersertifikasi B Corporation yang terbukti memenuhi standar sosial dan lingkungan tertinggi.
Blueair, Udara Bersih dengan Jejak Lingkungan yang Rendah
Dalam konteks polusi udara Indonesia, purifier semakin dibutuhkan. Namun Blueair memastikan solusi kesehatan tetap sejalan dengan keberlanjutan. Produk yang tahan lama berarti jejak karbon yang lebih kecil.

Brabantia, Keberlanjutan yang Hadir dalam Aktivitas Sehari-hari
Brabantia mengusung filosofi anti “fast homeware”: Satu produk yang awet sering kali menggantikan beberapa produk murah yang akan rusak dan dibuang.\

Keberlanjutan Itu Bukan Hijau, Tetapi Bijak
Sustainabilitas bukan tentang mengganti plastik dengan bambu, kertas, stainless steel, atau tote bag.
Sustainabilitas adalah tentang berhenti membeli yang tidak perlu.
Itulah sebabnya data global seperti CGR 2025 sejalan dengan pesan Higienis Indonesia: solusi paling efektif bukan sekadar mengganti bahan, tetapi mengurangi konsumsi dan memilih produk yang memang dibuat untuk bertahan lama.
Karena bumi tidak membutuhkan lebih banyak barang hijau.
Bumi membutuhkan kita untuk lebih bijaksana.
Sumber:





Bagikan:
Kebiasaan Kecil, Berdampak Besar
Akhir 2025: Satu Tahun Lagi yang “Hampir” Jadi Tahun Kita